YayBlogger.com
BLOGGER TEMPLATES

Saturday, February 16, 2013

Aku selalu di anggap perempuan tegar dengan senyum sumringah setiap harinya. Mereka tidak tahu apa yang selama ini ku rasakan, bagaimana rasanya mencintai orang yang tidak pernah mencintaimu kembali. Bagaimana rasanya selalu memperhatikannya dari jarak jauh, tapi untuk menoleh pun dia tak mau.

Kisah ini terjadi sekitar 2 tahun lalu ketika aku baru pertama menggunakan seragam putih abu-abu. Cinta monyet pun mulai beraksi di beberapa temanku. Acara keceng-mengeceng senior pun saling bersaing. Tidak untuk diriku dan teman-teman. Kami masih terbawa hawa seragam putih biru dan kami selalu ingin kembali ke masa-masa itu. Tetapi tidak setelah aku mengenal dia dan teman-temanku mengenal teman-temannya. Salah. Bukan mengenal, tapi mengetahui. Mereka tidak mengenal kami. Justru kami yang mengenal mereka.
            Tidak terasa waktu sudah berjalan 2 tahun semenjak aku menyukainya. Dalam diam. Tidak ada ucapan yang pernah aku katakan kepadanya tentang perasaanku. Tidak ada kata-kata bahwa aku mengenalkan diriku kepadanya. Aku terlalu lemah untuk melakukan semuanya. Dan sampai sekarang, aku masih lemah. Walau sudah 2 tahun, itu berarti dia sudah meninggalkan sekolah ini aku masih tetap menunggunya. Berjalan seolah dia berada di sekelilingku, duduk di bangku kantin yang suka ia duduki, atau diam di mesjid seperti yang dia lakukan.
            Aku merindukannya. Sungguh.
            Aku merindukan bagaimana dia berbicara dengan teman-temannya, sekedar gelengan kepala yang membuat rambut belakangnya ikut bergoyang, atau wajahnya ketika selesai solat. Hal yang membuatku gila dalam 2 tahun ini.
            Sampai sekarang, aku belum berani mengungkapkannya. Aku takut. Bagaimana dengan dia? Sepertinya dia tidak menyukaiku. Dengan segala perjuangan aku memberikan kode-kode. Untung yang aku berikan buka kode morse.
            “Del, kayaknya hari ini dia mau ke sini deh. Semalem gue kepoin twitter temannya. Mau main futsal gitu, kumpul-kumpul.”
            Aku mengangguk. Pura-pura menyimak.
            Aku jadi mengingatnya lagi. Dimana saat itu dia menjadi kiper, aku menjadi pendukungnya. Dari belakang. Aku mengintipnya, walau entah dia mengetahui keberadaanku atau tidak.
            “Jam berapa?”
            “Tiga kalau nggak salah.” Jawab temanku.
            Rabu jam tiga, untung nggak ada les. Pikirku dan langsung semangat.
Dia adalah temanku yang mengetahui perasaan terdalamku, selain temanku yang satu lagi. Mereka tidak pernah punya masalah dengan keadaanku yang selalu membicarakannya. Kalau aku sedang galau, merekalah yang selalu menghiburku.
            “Temenin yuk.” Ajakku, dan langsung mendapat anggukan.

Akhirnya hari rabu tiba. Jam baru menunjukkan pukul 1 siang. Saatnya aku dan teman-teman menuju mesjid dan solat seperti biasa. Setelah selesai, sedang memakai sepatu dan mengobrol tiba-tiba ada suara yang sangat familiar di telingaku. Tidak salah lagi..
            “Sudah lama banget ya nggak futsal di sini. Gue biasa nyewa lapang langsung sih, gede kan nggak kayak gini. Hahaha...” Kata salah satu orang yang tak jauh dari kami. Yang lain ikut berkomentar. Ada 6 orang totalnya. Dan... Ada dia.
            Tiba-tiba dadaku sesak. Seolah tak ada oksigen sedikit pun yang masuk ke dalam tubuhku. Aku ingin menangis tetapi ingin marah juga di waktu bersamaan.
            “Del...” Temanku menyadarkanku.
            “Itu dia ya? Kapan ya terakhir kita lihat dia? Bulan lalu?”
            “Setengah bulan lalu.” Aku mengoreksinya dan mendapat anggukan dari kedua temanku. Kami lanjutkan menggunakan sepatu dan masuk ke dalam sekolah. Ternyata, gerombolan tadi benar-benar sedang main futsal. Lagi-lagi dia ada di sana. Menjadi kiper, dan aku berada di posisi yang sama. Seketika pandangan kami bertemu. Dia memandangiku cukup lama, sehingga ia kebobolan satu bola dan harus push up. Aku tertawa kecil dan tanpa sadar aku diliati oleh kedua temanku.
            Sampai di kantin, kedua temanku langsung bertanya.
            “Ungkapin aja, Del. Siapa tahu jodoh..”
            “Iyaaa. Sudah 2 tahun juga kali, dia pasti ingat sama lo.”
            Ya. Dia pasti ingat sama aku. Karena karya-karya yang sudah kami hasilkan pasti langsung di kasihkan ke dia. Entah apapun itu.
            “So? Gue harus nembak dia?” Kataku akhirnya sambil menghabiskan susu putihku dengan satu tegukan besar. “Del, mereka ke sini.”
            Aku sama sekali tidak berani memalingkan wajah dan aku hanya menunggu. Mereka melewati meja kami dan duduk 2 meja setelah kami. Mengobrol, tertawa, dan sesekali aku mencuri pandang ke arahnya ternyata dia juga melakukan hal sama. Seperti Bella dan Edward di Twilight saja. Pikirku absurd.
            Pikiran dan hatiku pun bermain. Aku biarkan otakku tidak ikut bermain karena biasanya otakku akan memikirkan hal-hal negatif yang kemungkinan besar tidak akan terjadi. Akhirnya aku memutuskan bahwa aku akan berkata padanya hari ini. Terserah apa responnya.. Yang penting aku sudah lega. Lagian kan kami akan jarang bertemu juga, jadi tidak akan malu-malu banget.
            Baru saja aku berteriak, “Kaak...” Dan dia menoleh tetapi tiba-tiba seorang perempuan lain muncul dari belakang, dia berjalan menuju meja kami. Ah bukan ternyata meja teman-teman dia. Aku memperhatikan gerak-geriknya. Perempuan itu menyalami satu-satu temannya. Dan yang terakhir... Dia memberikan cipika-cipiki kepadanya. Tiba-tiba badanku lemas. Hatiku sakit. Mataku perih. Aku ingin menangis. Kedua temanku yang menyadari keadaan langsung membawaku pergi dari kantin.
            “Sabar, Del.. Mungkin... Mungkin...” Temanku tak sanggup berkata apa-apa. Air mataku jatuh satu tetes, aku langsung mengelapnya dan tersenyum.
            “Aku nggak apa-apa. Pulang yuk, aku lapar nih. Atau kemana gitu...”
            Kedua temanku sigap. Mereka langsung menarikku jauh dari dirinya.

            Ya. Aku harus bisa walau hati ini teriris dengan perih. Seperti luka yang diobati oleh jeruk nipis. Penantian 2 tahun yang sama sekali... Tidak sia-sia.

No comments:

Post a Comment