YayBlogger.com
BLOGGER TEMPLATES

Tuesday, September 4, 2012

Sehari saja.(1)

Aku duduk di pinggir jendela kamarku yang berada di lantai 2. Kebiasaan ini sudah sering aku lakukan sejak aku kelas SD, tepatnya sejak adik pertamaku lahir. Aku anak pertama dari dua bersaudara, dan aku sangat tidak menginginkan kata DUA di situ.

Aku sangat dan sangat membenci adikku. Seperti aku membenci pisang, makanan yang selalu membuat aku mual. Adikku seperti itu. Setiap dia berada di dekatku, aku ingin mual.

Apa yang salah denganku? Ya, tentu saja banyak yang salah disini. Yang pertama aku tidak menyukai adikku dan yang kedua aku sangat tidak menyukai adikku.

Sekarang aku sudah kelas 3 SMA berarti sudah hampir 8 tahun ini aku mempunyai adik dan berartinya lagi aku sudah 8 tahun menginginkan dia pergi dari kehidupanku. Apa yang mereka sukai dari seorang anak kecil manja yang selalu meminta ini-itu dan harus selalu dituruti? Sungguh, aku sangat tidak menyukai anak kecil. Walau aku tau dulu juga, sebelum aku segede ini aku hanyalah anak kecil.

"Mia, kenapa kamu tidak pernah suka dengan Mika? Dia kan adikmu sendiri, Sayang." Begitu kata Mamaku saat ia tau aku membentak Mika.

"Dia bukan adikku, Ma. Mia gak pernah punya adik sampai sekarang. Siapa Mika?!!!"

"MIA!" Teriak Mama dan Mama hampir saja melayangkan pukulannya ke pipiku. Tapi tidak jadi.

Kenapa anak kecil selalu dimanja? Selalu menjadi pusat perhatian? Selalu benar? Dan aku sebagai kakaknya selalu saja salah.

Hah! Adikku ini selalu merusak barang-barang yang selalu aku jaga dari dulu, dia selalu membuatku kesal setengah mati. Tapi setiap aku marahin dia apa yang terjadi? Mama justru balik memarahiku. Katanya Mika itu masih kecillah jadi belum tau apa-apa. Akhirnya? Aku lagi yang disalahin.

"Ka... Mika mau ini ya, boleh nggak?" Tanya Mika dengan wajah yang so polosnya itu, tiba-tiba aku langsung enek liatnya.

"Gak."

"Ayo dong, Kak... Mika mau ini boleh ya?" Pintanya masih sambil merengek sambil memegangi boneka kesayanganku. Boneka itu hadiah dari Papa dan Mama ketika aku masih SD.

"Lo budek ya?! Gue kan bilang nggak!" Teriakku, di situ Mika mulai merengek dan nangis sekenceng-kencengnya. Tanpa sabar, aku mendorong dia hingga terjatuh. Dia menatapku, aku melototinya.

"Lo gak usah nangis ya! Lo yang salah nanti gue yang kena marah. Egois banget sih!" Aku mencubitnya, dia meringis namun tidak menangis. Aku menyeretnya keluar dan membanting pintu kamarku.

Keesokan harinya, kedua orangtuaku pergi keluar kota dan otomatis Mika nggak ada yang nganter ke sekolahnya. Mama mewanti-wanti agar aku mengantar Mika, sebagai imbalan Mama akan memberi uang jajan lebih selama sebulan. Tentu saja aku tergiur dan langsung mengiyakan.

Pagi-pagi aku sudah duduk di meja makan. Mika yang biasanya mandi dibantu Mama sekarang kubiarkan ia mandi sendiri dan melakukan hal lainnya sendiri.

"MIKA!! Cepet dong lo, lelet banget sih! Gue tinggal tau rasa lo."

Dengan cepat Mika menghampiriku dengan baju seragam yang kusut dan tas yang belum di seleting. Aku selesai sarapan, Mika baru mau ngambil makanan. Aku melotot ke arahnya dan menunjuk jam tanganku. Dia memandangku dan rotinya bergantian kemudian menunduk dan mengikutiku dari belakang.

Tidak sampai 10 menit aku dan Mika sampai di sekolahnya. Aku parkir di sebrang sekolah dan setelah Mika turun aku mengunci mobil. Setelah liat kiri-kanan aman aku berjalan duluan untuk nyebrang. Mika masih tetap mengikutiku dari belakang sambil menggeret tas berodanya. Tiba-tiba saja...

"AAAA!!!!" Ckiiitttt..... Gubraaak!

Aku langsung berbalik dan melihat Mika yang sedang tidur di aspal. Seragam putihnya penuh noda merah dan tiba-tiba saja sekelilingku dipenuhi oleh orang-orang. Sesak. Seketika semuanya gelap.

Ketika sadar, aku sudah ada di kamarku dan kepalaku sangat sakit sekali berdenyut-denyut. Aku tiba-tiba teringat Mika yang tadi kecelakaan. Aku melihat jedela dan sekarang sudah malam hari. Berapa lama aku pingsan? Aku mengecek BBM-ku dan menemukan message dari Mama.

"Kalau sudah siuman tolong ambilkan beberapa potong baju Mama dan Mika ya. Ini alamat rumah sakitnya......... Terimakasih."

Aku pun mulai dari mengemas baju Mama, kemudian masuk ke kamar Mika. Sambil mencari-cari baju Mika, aku melihat sebuah buku yang disimpan paling pojok di lemar bajunya. Aku membuka lembar demi lembar melihat tulisan yang sungguh merusak mata karena dia belum terlalu pandai menulis kemudian tanpa bisa aku tahan air mata bergulir.

"Dear diary....
Di, apa yang harus aku lakukan? Aku sungguh menyayangi Kak Mia tetapi kenapa ia selalu membenciku? Aku berusaha mengajaknya ngobrol, tetapi dia malah membentakku. Aku mengajaknya main, dia malah mengusirku dari kamarnya......................"

"Dear diary...
Apa Kak Mia tidak suka kehadiranku, Tuhan?..........................."

"Dear diary...
Hari ini ulangtahunku yang ke 7, dan kau tau kado apa yang sangat aku inginkan? Ucapan selamat ulang tahun dari Kak Mia. Tuhan, kenapa susah sekali mendapatkan kado yang seharusnya lebih mudah dari yang kubayangkan?..................."

"Dear diary......
Aku mendengar kakak membenciku. Apa benar, Tuhan? Kenapa kakak begitu membenciku? Gara-gara kehadiranku hubungan Mama-Papa-Kak Mia tidak rukun seperti biasanya. Apa yang harus ku lakukan, Tuhan?..............."

Aku menangis. Satu buku itu penuh dengan namaku. Lalu aku membuka kembali halaman paling belakang buku itu.

"Diary... Ini lembaran terakhir dibukumu. Maafkan aku Kak Mia karena aku sudah membicarakanmu di buku ini... Maafkan aku karena aku tidak bisa menjadi adik yang baik, selalu menyusahkan Mama, Papa, dan kakak. Aku sayang Kak Mia. Bolehkah Kak Mia menganggapku sebagai adik sehari saja? Diary... Aku akan membeli buku baru tapi aku janji kau selalu ada untukku.. Terimakasih untuk ratusan lembar yang telah kuisi dengan omonganku ini................"

Buru-buru aku mengelap air mata dan tancap gas menuju rumah sakit Mika berada.

No comments:

Post a Comment