YayBlogger.com
BLOGGER TEMPLATES

Tuesday, September 4, 2012

Sehari saja. (2)

Aku langsung menanyakan resepsionis yang berada disitu. Mika Ardinanta. Perawat itu menyebutkan angka kamar rawat Mika. Aku pun mencari kamar tersebut, namun aku bukan menuju kamar biasa melainkan ICU.....

Mama sedang duduk dengan diam di lorong rumah sakit. Aku menghampiri dan langsung memeluknya.

"Ma, maafin Mia gak bisa jaga Mika dengan baik. Bukan maksud Mia untuk mencelakakan Mika..."

"Sssttt... Mama tau, Sayang. Sebenci-bencinya kamu sama Mika dia tetap adikmu satu-satunya."

Kami pun terdiam. Mama menawarkan aku untuk masuk menjenguk Mika dan aku langsung mengiyakannya. Saat masuk kamar Mika yang kulihat hanyalah adikku malang yang sedang tertidur damai dan balutan perban dibagian tangan dan kepalanya. Aku berjalan mendekatinya, memegang tangannya.

"Mika... Ayo bangun, dek. Kamu adikku kan? Ayo kita main... Kakak janji deh kalau kamu sudah sadar kita main yuk. Berdua aja, kamu dan aku........." Aku meremas tangan Mika berkali-kali.

2 hari kemudian Mika sadar. Aku baru tau kalau Mika kena geger otak serius, kepalanya terbentur aspal dengan keras dan Mika pun mengalami pendarahan yang cukup banyak. Tetapi ia tetap terlihat senang, apalagi ketika ia tau aku menungguinya dirumah sakit.

"Kak Mia? Kakak gak marah sama Mia?" Begitu katanya saat ia pertama melihatku. Aku tersenyum untuk yang pertama kalinya kepada Mia lalu menggeleng. Kami pun menghabiskan waktu berdua di kamar rawat Mika, Mama dan Papa memberi waktu kepada kami berdua. Mika banyak bercerita dan aku menjadi pendengar setianya. Ternyata tidak ada buruknya mendengarkan cerita anak kecil, malah membuat hati kita ikut senang.

 12 hari kemudian setelah Mika dinyatakan sembuh, ia diperbolehkan pulang.
Tapi, sebelum pulang Mika mengajakku main berdua saja dan diiyakan oleh kedua orangtua kami. Akhirnya aku menyetir mobil sambil mendengarkan suara anak kecil yang bercerita macam-macam disebelahku. Kami sampai di tempat tujuan, taman rekreasi.

Mika sungguh lincah dengan kesehatannya yang baru pulih, dia tergolong hiperaktif. Ke sana kemari tiada henti sambil memainkan segala permainan. Aku yang ikut-ikutan saja sudah capek untuk mengejarnya. Kemudian kami bertemu badut dan tanpa pikir panjang aku mengajak Mika untuk berfoto bersama dengan dibantu oleh petugas tempat beramain tersebut.

Sore menjelang malam kami baru sampai rumah disambut oleh makanan yang sungguh nikmat buatan Mama.

"Kak, aku senang sekali bisa bermain bersama kakak. Aku senang akhir-akhir ini kakak gak marah lagi sama Mia. Terimakasih banyak ya, Kak. Mika sayang kakak." Mika maju selangka lalu mengecup pipiku untuk yang pertama kalinya. Aku memeluknya lalu menangis, "Maafkan kakak, Mika.."

Setelah makan malam dan dilanjutkan dengan menonton film bersama-sama di ruang keluarga, aku masuk ke kamar dan menuju laptopku. Aku segera mencetak foto aku dan Mika saat berada di taman bermain. Banyaaak sekali foto kami disana, apalagi wajah Mika yang sungguh gembira. Terkhir, aku mencetak foto kami saat berfoto dengan badut. Aku mencetaknya dengan ukuran yang lebih besar dari yang lainnya. Lalu perlahan mataku mulai mengantuk, aku tertidur dengan fotoku dan Mika dipelukanku.

"Mia... Mia... Miaa!!!" Aku dibangkun dengan kasar oleh Mama. Pelan-pelan aku membuka mata, aku kaget begitu melihat mata Mama yang sembab. "Ada apa, Ma?"

"Mika..... Mika... Mika meninggal, Sayang." Kata Mama histeris. Aku diam mematung. Apa aku tidak salah dengar? Baru kemarin aku menghabiskan waktu dengannya, baru kemarin dia menciumku untuk pertama kalinya, baru kemarin aku merasakan kebahagiaan menjadi seorang kakak....

Aku masuk ke kamar Mika dan menemukannya sudah tersenyum dalam damai. Tidak ada hembusan nafas darinya, tidak ada gerak-geriknya lagi. Tidak ada suara cemprengnya yang bisa membuat telinga sakit 3 hari 3 malam. Mika..........

Aku menangis dipelukan Mika, untuk yang pertama dan terakhir aku mencium Mika.

"Mia sayang kamu, Mika.. Sayang banget...."

Aku menangis sejadi-jadinya. Aku menyesal telah melakukan ini semua.... Hal yang seharusnya tidak aku lakukan dari dulu. Sungguh, kalian tau betapa bahagianya menjadi seorang kakak? Menjadi contoh untuk orang lain? Dibanggakan di depan teman-teman adik sendiri? Aku telat menyadari semua ini...

Mama meremas bahuku dari belakang. Ini semua salahku.....

Proses pemakaman Mika berjalan dengan khidmat dan tenang. Semoga saja arwah Mika pun ikut tenang di atas sana. Aku terus berdoa tiada hentinya untuk Mika. Mika seorang anak kecil tidak berdosa dibunuh oleh kakaknya yang kejam tidak berprasaan? Aku berteriak dalam hati dan terus menangis. Kepergian Mika bukanlah yang aku inginkan sekarang. Yang aku inginkan sekarang adalah terus bersama Mika sampai tua kelak aku akan punya keponakan dari adik kandungku sendiri.

Aku berjalan ke kamar Mika dan menghirup harum parfume yang selalu Mika pakai. Aku membuka buku diary-nya dan menulis di halaman paliiing belakang yang sebenarnya bukan kertas.

"Diary kenalkan aku Mia. Aku sungguh mencintai adikku lebih dari yang ia tau, tetapi aku telat menyadarinya dan aku sungguh menyesal. Sekarang ia sudah tidak ada, harus ku katakan kepada siapa bahwa aku menginginkan Mika di sini bersamaku? Aku egois ya? Biarkan, apapun akan ku lakukan agar Mika kembali ke sini bahkan aku rela menggantikan Mika. Biarkan Mika, gadis kecil yang polos dan selalu berceloteh riang itu disini. Aku, Mia, yang jahat, tidak perperasaan dan selalu bermain kasar yang meninggalkan dunia ini... Mika... Terimakasih kau telah menjadi adikku yang sangat aku cintai, maafkan kakak.... Maafkan Mia maksudku. Aku tidak pantas di sebut kakak olehmu, Mika... Tunggu aku... Kelak nanti aku akan bertemu denganmu dan kita bermain bersama lagi. Terimakasih untuk satu hari kebersamaan kita..."

Aku menempelkan fotoku bersama Mika dan badut di halaman tersebut lalu menyimpannya di lemari bajuku.

No comments:

Post a Comment