YayBlogger.com
BLOGGER TEMPLATES

Sunday, May 29, 2011

Berteman Dengan Kematian.

“Kesadaran akan kematian membangkitkan semangat hidup yang besar”.


Seperti yang berada di dalam buku, novel yang terbit tahun 2010 dan di terbitkan oleh Penerbit Ombak sukses membuat saya terus menerus bersyukur dengan apa yang sudah saya dapatkan selama hidup saya.




Saya sedang mencari novel. Ketika saya mengambil salah satu buku, ternyata buku ini yang saya ambil. Saya membaca bagian cover belakangnya kemudian depannya. Saya merasa buku ini harus saya baca, apalagi ketika melihat cover depannya bertulisan "Trus Story". Saya semakin menjadi-jadi untuk membacanya.


Setelah saya membaca buku ini, sedikit demi sedikit saya menyimpulkan :


Buku ini di ambil dari kisah nyata penulisnya sendiri, Sinta Ridwan. Seorang yang mempunyai cita-cita untuk membangun museum naskah kuno nusantara. Sinta yang memiliki keluarga tidak harmonis, di jauhi oleh teman-temannya, dan di vonis terkena Lupus (yang sampai saat ini belum di ketahui obatnya) harus berjuang sendiri di kerasnya kota besar. Membiayai hidupnya serta biaya kuliahnya seorang diri.



Lupus membuat Sinta lemah dari hari ke hari, tetapi itu tidak membuatnya berhenti bersemangat menjalani sisa hidup yang disebut dokter “hanya” bisa bertahan selama 10 tahun. Meskipun sempat marah dan kecewa dengan keadaanya, kini Sinta tidak lagi melihat kematian sebagai sesuatu yang menakutkan, melainkan sebagai teman yang dapat diajak berbincang.
Justru pada saat itu, Sinta bertekad agar memanfaatkan sisa hidup untuk memberi makna kepada orang-orang di sekitarnya. Ia berpendapat bahwa hidup harus disyukuri. Satu kalimat yang tertancap pada kepalanya adalah: hidup harus hidup. Menurutnya, hanya ada satu obat yang dapat menyembuhkan lupus, yaitu kebahagiaan.



Sinta Ridwan sudah menerbitkan puisinya yang berjudul "Secangkir Bintang." Dengan mengesplorasinaskah naskah kuno, Sinta juga berharap bahwa suatu hari ia bisa menjadi pengajar atau peneliti yang bisa berkeliling dunia.Karena itulah, puisi dan nasib naskah-naskah kuno, merupakan topik obrolan yang paling disukainya. Bahkan, jika ia sedang bercerita tentang naskah-naskah kuno tampak bahwa pembicaraan itu lebih menarik baginya ketimbang membicarakan penyakit lupus yang ada dalam tubuhnya.

Akan tetapi bagaimanakah memunculkan bahagia sedangkan lupus terus menyerang organ tubuh dengan ancaman kematian? Tentu saja tak mudah, terlebih lagi kebahagian itu sangat relatif.Demikian pula bagi Sinta. Namun baginya, sebagai odapus (orang yang menderita Lupus)  kebahagian itu adalah dengan memaknai hidup dan menghargainya.


Sinta, meskipun menderita sakit, justru menasihati teman-temannya yang sehat agar tidak menangis. Sinta, meskipun bergelut dengan lupus dan merasa kesakitan, justru bisa tersenyum.

Tentu manusiawi sekali jika ia pun merasa takut pada kematian. Akan tapi, seperti juga pada penyakitnya Sinta memandang ketakutan pada kematian itu sebagai teman. ” Saya masih ingin hidup. Hidup harus hidup. Tapi jika memang kematian itu akhirnya datang, yang saya takutkan hanyalah saya mati sendirian tanpa ada siapa pun,” ujar Sinta yang hingga sekarang keluarganya belum tahu bahwa ia mengidap lupus.



Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari buku ini. Itu lantaran Sinta menulis dengan jujur, penuh perasaan dan tentu saja dengan semangat hidup yang tinggi. Pelajaran yang paling berharga disodorkannya yaitu bahwa manusia, siapapun dia tidak akan luput dari kematian.

"Perjalanan hidup adalah sebuah proses, dan kematian adalah final.  Begitu pula kematian adalah jodoh yang pasti datang untuk menemani kita untuk melangkah di kehidupan yang baru." - Si Hidup.



4 comments:

  1. Halo Gea, terima kasih yaaaa :)
    Btw, dapat fotonya darimana? :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih juga udah ninggalin comment kak :D
      Dari google sama dari... web apa ya lupa hehe cantik loh ka :)

      Delete
  2. Kak sinta karya"a sumpah keren".. terus berkarya ya kak sinta.. :)

    ReplyDelete